Karya Rummy

Tulang Rusuk

Setiap manusia diciptakan untuk berpasang-pasangan.
Aku percaya bahwa Alloh juga mempersiapkanku pasangan. Yah, itulah keyakinanku saat ini.
Aku Tasya. Mahasiswi semester akhir di salah satu universitas di Kalimantan.
Aku cukup berbeda dari yang lainnya. Berbeda dalam artian baik loh ya hehe. Aku tidak bisa diam. Begitu kata teman-teman kampusku.
Akhir-akhir ini, aku sering baper. Soalnya, si Siti teman satu Fakultas denganku sudah naik ke pelaminan bulan lalu, eh si Shinta juga sudah nemuin pangeran idamannya minggu lalu. Dua hari lagi acara lamarannya. Haddeh, mereka ini buat aku bapeerrr 😀
.
“Kamu kok mau sih nikah Sit??” Bisikku di tengah mata kuliah pak Agus siang itu.

“Heh, kalau sudah nemu jodoh tuh gak bisa nolak kali hehe” katanya sambil tersenyum.
“Trus.. trus.. susah? Apa mudah? Atau kalian gimna ?” Tanyaku bersemangat.
“Apaan? Apanya yang susah, mudah? Hihii.. eh pak Agus tuh.. dengerin” jawabnya.
“Maksudnya enak gak nikah? Kan susah” kataku dalam hati.
.
“Tasya…..”
Teriak Shinta.
“Nih…”
Shinta memberikan undangan berwarna merah muda dengan hiasan bunga di atasnya.
“Eh… ini….”
Dia hanya tersenyum lalu berlalu.
“Aku ke yang lain dulu deh, ini masih banyak soalnya hehe datang yooo” ujarnya.
.
“Saaahh!!”
“Alhamdulillah”
Kata para tamu di dalam ruangan. Wajah siti begitu cantik. Anggun dengan dibalut baju adat jawa dan bersama suaminya, ia berfoto bersama sambil memperlihatkan buku nikah.
“Ooohhh baperrr” kataku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
“Bahagianyaa… kamu kapan nyusul” tanya seseorang di sampingku.
“Eh.. Ren.. kamu diundang juga?” Tanyaku padanya.
“Hmm… kita satu organisasi kepenulisan di luar kampus” ujarnya.
“Ditanya kok tanya balik?” Lanjutnya.
“Hahaa masih lama mah kalau aku. Masih mau seneng-seneng” jawabku sambil tertawa terbahak-bahak.
“Ooh…..” katanya sambil mengangguk.
“Nomormu dong” pintanya.
Kami pun bertukar nomor handphone. Sejak saat itu, kami dekat ya cukup dekat. Sampai akhirnya, aku tak sadar, kami seharusnya tidak sampai sejauh ini.
.
“Siti. Aku pulang duluan ya, tugas kelompoknya bentar aku kerjain bagianku di rumah” kataku.
“Kamu mau kemana?” Tanyanya.
“Ada janji… sudah yaaaa” teriakku meninggalkan Siti dan yang lain di kelas.
Siti yang penasaran. Mengintip di jendela kampus yang langsung memperlihatkan tempat parkir.
“Tasya…..” ia membatin sambil menggeleng kepala.
.
“Assalamualaikum….”
“Siapaa?!”
“Ini siti, Sya. Boleh masuk?” Tanyanya.
Aku membuka pintu dan mempersilahkannya masuk.
“Kita ngerjain tugas bareng ya. Aku nginap boleh?”
“Oh.. boleh” jawabku sedikit kesal.
.
Kami pun mengerjakan tugas bersama malam ini.
“Eh.. kamu kok ketawa mulu Sya? Kerjain tugasmu gih.. kamu gak fokus kalau pegang handphone mulu” katanya tegas.
“Hmmm” jawabku.
“Eh… sudah jam 2, tidurlah” pintaku.
“Loh… kamu kan belum selesai. Nih aku bentar lagi selesai”
“Hehe… ini si Rendi ngeselin… eh”. Aku tidak sengaja keceplosan. Aku lirik mata Siti dan aku sedikit merasa bersalah.
“Sya…. aku mau ngomong sesuatu. Kamu pacaran?” Tanyanya.
“Enggaklah tapi deket sih” jawabku.
“Sya… mending, kalau nggak ada kejelasan, kamu batasi deh kedekatan itu. Kalau berlebihan bakalan ada yang tersakiti. Jangankan tersakiti, kamu bakalan nggak fokus dengan semuanya. Itu juga mendekati zina Sya” katanya.
Aku terdiam lalu ku letakkan hanphoneku.
Dia memelukku sambil menangis.
“Aku nggak mau sahabatku yang sholehah terjerumus ke situ Sya. Jaga dirimu. Nggak enak juga dilihat dengan yang lain, bukan muhrim kok deketnya berlebihan” ucapnya pelan.
Aku terdiam…
.
“Ren… mending kita nggak usah terlalu deket deh”
“Loh kenapa?”
“Takut saja aku bakal nggak fokus trus lalai. Semenjak deket dengan kamu, aku jadi suka telat solat” kataku.
“Trus kamu mau aku gimana?” Tanyanya.
“Kalau memang kamu siap, bagaimana kalau kita nikah?” Tanyaku.
“Nikah? Hahaa…. masih juga seumur jagung. Kamu minta nikah?”
“Kalau gitu, jangan salahkan aku kalau aku mulai menjauh”
Aku pun berlalu…
.
Sebulan berjalan. Kami tidak lagi berkomunikasi. Siti selalu mengajakku ke kajian-kajian yang ia ikuti usai kuliah. Aku juga sering diajak sharing tentang persiapan sebagai seorang wanita menjelang pernikahan dengan Shinta. Sampai suatu hari…
.
“Sya… kamu mau aku gimana? Jangan diamin aku gini!” Ujar Rendi yang menemuiku di kantin.
“Mending fokus sama skripsi Ren…”
“Kalau aku lamar, orang tuamu gimana?”
Aku terdiam… aku pucat…
“Kamu serius? Kamu sudah siap?” Tanyaku.
“Kalau materi mungkin belum. Tapi aku yakinnya sama kamu. Aku…”
Kami saling menatap.
“Astaghfirulloh……….”
.
Dua hari setelah itu. Aku sepeti hilang ditelan bumi di hadapan Rendi.
Bukan karena percakapanku bersama Rendi. Tapi, setelah obrolan kami. Malam itu, aku… dilamar.
(Continue….)
.
“Ya Alloh, apakah hati ini sudah siap tuk berlabuh pada tempat yang seharusnya?” Tanya Tasya dalam hati usai sholat Tahajjud….

Iklan

One thought on “Tulang Rusuk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s